Mulai Masuk Sekolah, BNPB Siapkan Tenda Bagi Pelajar Korban Banjir dan Longsor Sumatra-Aceh

Jakarta I Antarwaktu.com – Kondisi bangunan sekolah dan madrasah pasca Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra dan Aceh saat ini belum semua kondusif. Pasalnya, ada beberapa bangunan sekolah yang sudah bersih dari lumpur dan sebagian sekolah masih belum bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyampaikan, kepastian dimulainya Kegiatan Belajar Mengajat (KBM) telah dikomunikasikan langsung kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

Abdul Muhari menyebutkan, Abdul Mu’ti dijadwalkan akan turun langsung ke wilayah terdampak untuk meninjau sekaligus memimpin pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar.

Untuk mendukung pelaksanaan KBM, BNPB bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, serta unsur relawan terus melakukan pembersihan gedung-gedung sekolah yang terdampak banjir.

“Namun mungkin ada kondisi beberapa sekolah yang masih dalam tahap pembersihan. Untuk sementara waktu kita akan mengoptimalkan tenda-tenda sementara untuk proses belajar-mengajar,” ujar Abdul Muhari.

Per Sabtu, BNPB melaporkan korban jiwa bencana banjir dan longsor di Sumatra bertambah 10 orang, sehingga menjadi 1.167 orang.

“Hari ini ada penambahan dari Aceh Utara sebanyak 10 jiwa. Sehingga per hari ini 3 Januari 2026 total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.167 jiwa,” kata Muhari.

Sementara itu, berdasar data BNPB masih ada 165 orang hilang akibat bencana itu. Muhari juga menjelaskan jumlah pengungsi berkurang signifikan dalam dua hari terakhir. Data BNPB mencatat pengungsi sebanyak 257.780.

“Ini menunjukkan di samping progres pembersihan kawasan saat ini sangat intensif, juga aparat gabungan, masyarakat, relawan dan segenap entitas yang terlibat, ini juga mulai membersihkan kawasan pemukiman, khususnya rumah yang terdampak sedang hingga ringan,” katanya.

Muhari menjelaskan masyarakat yang masih tinggal di tempat pengungsian adalah masyarakat yang rumahnya rusak berat atau hanyut akibat banjir dan longsor.

“Ini akan update terus pendataan untuk kebutuhan hunian sementara, DTH ataupun rekapitulasi untuk hunian tetap,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *