Jakarta | antarwaktu.com – Kasus pembunuhan sadis satu keluarga di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu, yang menewaskan lima orang pada Agustus 2025, kembali menjadi sorotan publik. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM, resmi membuka sayembara senilai Rp750 juta rupiah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi sahih atau membantu menangkap Aman Yani. Sosok ini disebut-sebut sebagai otak utama dan aktor intelektual di balik pembantaian keji tersebut, namun hingga kini keberadaannya masih misterius dan belum terungkap.
Peristiwa mengerikan itu terjadi pada 29 Agustus 2025. Kelima korban yang ditemukan tewas bersimbah darah adalah Haji Sahroni (75), anaknya Budi (45), menantu Euis (40), serta dua cucu berusia 7 tahun dan 8 bulan. Jasad mereka baru ditemukan seluruhnya pada 1 September 2025, memicu kemarahan dan keprihatinan luas masyarakat serta permintaan keadilan secepatnya .
Polisi sempat menangkap dan menetapkan dua tersangka eksekutor, yaitu Ririn Rifanto (36) dan Priyo Bagus Setiawan (30). Keduanya kini sedang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Indramayu. Namun, dalam pemeriksaan di ruang sidang, keterangan kedua terdakwa mengarah ke sosok lain. Mereka secara tegas menyatakan bahwa pembunuhan ini adalah hasil rencana dan perintah Aman Yani, yang memiliki sengketa lama serta konflik bisnis dengan korban utama, Budi .
Keluarga: Aman Yani Sudah Hilang Sejak 2016, Dituding Fitnah
Keterangan tersebut dibantah keras oleh keluarga Aman Yani. Melalui kuasa hukumnya, pihak keluarga menyatakan bahwa Aman Yani sudah hilang kontak sejak Maret 2016, hampir sepuluh tahun lalu. Saat itu ia berpamitan hendak merantau ke Bandung setelah berhenti bekerja di Bank BJB, dan tidak pernah kembali atau menghubungi kerabat lagi hingga sekarang. Pihak keluarga menilai tuduhan terdakwa adalah fitnah besar, dan telah melaporkan balik keduanya ke kepolisian atas pencemaran nama baik.
Rekam Jejak: Mantan Pegawai Bank, Terlibat Kasus Kerugian Miliaran
Dari penelusuran, Aman Yani diketahui pernah bekerja puluhan tahun di Bank BJB. Namun rekam jejaknya tidak bersih; ia sempat tersandung kasus kredit fiktif yang merugikan bank hingga puluhan miliar rupiah. Ironisnya, korban utama Budi juga diketahui pernah berkarier di dunia perbankan. Hubungan masa lalu dan sengketa usaha keduanya kini menjadi kunci utama motif pembantaian tersebut.
KDM: Demi Keadilan, Harus Diungkap Sampai Tuntas
Meski ada perbedaan keterangan, Dedi Mulyadi menegaskan keberadaan Aman Yani sangat krusial untuk mengungkap fakta lengkap. Ia berpendapat tidak boleh ada pihak yang luput dari hukum, baik pelaku fisik maupun yang memberi perintah.
“Siapa saja yang mengetahui alamat, keberadaan, atau bisa menyerahkan Aman Yani kepada pihak berwajib, kami berikan penghargaan sebesar Rp750 juta. Ini komitmen kami: keadilan harus ditegakkan sepenuhnya. Kasus pembunuhan sekeluarga yang sangat keji ini tidak boleh ada titik abu-abu, semua harus terang benderang,” tegas KDM dalam pernyataannya, Kamis (21/5/2026).
Langkah ini diambil agar masyarakat ikut berperan membantu aparat kepolisian melacak keberadaan sosok yang menjadi kunci penyelesaian kasus paling menghebohkan di Indramayu belakangan ini. Hingga kini, tim kepolisian masih bergerak aktif melakukan pelacakan lintas wilayah, sementara sayembara terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki informasi akurat.
(RYD)







