Garut | antarwaktu.com – Kabar mengenai penurunan omzet bonsai lebih banyak terjadi pada masa pandemi COVID-19, di mana minat pembelian sempat anjlok hingga lebih dari 50%. Namun seiring berjalannya waktu, pasar bonsai kembali bangkit dan bahkan menjadi salah satu komoditas investasi yang menjanjikan dengan harga yang stabil dan bernilai tinggi.
Kabar menurunnya Omzet Bonsai kini kembali terulang karena kondisi geo politik dan terus naiknya kurs dolar Amerika yang terus meningkat.
Hal itu di akui Dasep seorang pengrajin Bonsai yang berlokasi di Desa Cimahi Kecamatan Caringin kabupaten Garut, saat di temui dilokasi, Senin siang (2/6/2026).
Dasep mengatakan, pasar kayu kerdil alias bonsai saat ini omzetnya menurun drastis akibat imbas GEO politik sedang tidak baik baik saja termasuk nilai kurs Dolar AS terhadap rupiah yang terus melemah.
Dasep mengakui bahwa omzet penjualannya sebelum ada krisis global sangat pantastis, bakan pemasarannya sampai ke negri Singapura
” Omzet penjualan bonsai sebelumnya cukup lumayan untuk kebutuhan rumah tangga keluarganya bisa diandalkan, tapi saat ini memang rada sulit mungkin para pengusaha taman taman lagi pada melehoy,” tuturnya.
Padahal menurut Dasep, tanaman Bonsai tidak lagi sekadar hobi, melainkan aset investasi alternatif.
“Tanaman ini memiliki kriteria tertentu, seperti lekukan dan penirusan batang yang bagus, bisa terjual mulai dari puluhan hingga ratusan juta,” pungkas Dasep seraya menandaskan semoga geo politik global yang ber imbas kepada nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa segera reda. (Deng) Editor: Buy












