Kejuaraan Terbuka Sumpitan di Tangerang: SUMBAT Merawat Warisan Budaya, Menumbuhkan Prestasi Generasi Muda

Kota Tangerang | antarwaktu.com – Olahraga tradisional Sumpitan kembali mendapat ruang untuk berkembang di tengah masyarakat. Tidak sekadar menjadi aktivitas rekreasi, Sumpitan kini mulai diarahkan sebagai olahraga prestasi sekaligus sarana untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia.

Sumpitan merupakan olahraga tradisional yang menggunakan teknik tiupan untuk melontarkan anak sumpit ke sasaran. Tradisi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan masyarakat Dayak dan menjadi salah satu kekayaan olahraga tradisional Nusantara.

Dalam perkembangannya, Sumpitan menjadi bagian dari olahraga rekreasi masyarakat dan berada dalam ekosistem pembinaan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI).

Di Banten, pengembangan olahraga tersebut dilakukan oleh Sumpitan Banten Tradisional (SUMBAT) di bawah naungan Pelestari Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA) sebagai bagian dari pembinaan induk olahraga (INORGA) di wilayah Kota Tangerang.

Keberadaan SUMBAT selama kurang lebih tiga tahun menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Sumpitan secara lebih luas kepada masyarakat. Berbagai kegiatan dan kompetisi mulai digelar sebagai ruang pembinaan atlet, pencarian bibit potensial, sekaligus upaya mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam olahraga tradisional tersebut.

Salah satunya melalui Kejuaraan Terbuka Olahraga Sumpitan yang digelar di Lapangan Benteng Reborn, Kota Tangerang, Minggu (30/8/2026).

Kejuaraan tersebut mempertandingkan sejumlah kategori yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan. Di antaranya kategori perorangan umum, perorangan pelajar, beregu, serta kategori runduk.

Dalam olahraga Sumpitan, kemampuan fisik bukan menjadi satu-satunya faktor penentu. Peserta juga dituntut mampu mengatur pernapasan, menjaga ketenangan, serta memiliki konsentrasi dan fokus yang tinggi agar mampu mengarahkan anak sumpit tepat menuju sasaran.

Jarak yang dipertandingkan dalam kejuaraan tersebut berada di kisaran 20 meter untuk sejumlah kategori yang dilombakan.

Ketua pelaksana kejuaraan terbuka olahraga Tradisional sumpitan Kota Tangerang 2026 , Hary Prasetyo menjelaskan bahwa jarak 20 meter menjadi salah satu standar pertandingan yang saat ini diterapkan dalam pengembangan olahraga Sumpitan di Kota Tangerang.

“Target jarak yang saat ini ada di Kota Tangerang sekitar 20 meter. Selain membutuhkan pengaturan napas, tingkat konsentrasi dan fokus juga sangat dibutuhkan,” ujar Hari.

Menurutnya, Sumpitan memiliki karakteristik yang berbeda dengan cabang olahraga lainnya. Peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknik, tetapi juga mampu mengendalikan pernapasan dan menjaga fokus ketika membidik sasaran.

Karena itu, keberadaan kejuaraan tidak semata-mata dimaknai sebagai ajang perebutan gelar juara. Kompetisi tersebut juga menjadi ruang pembinaan untuk membangun mental bertanding, kedisiplinan, ketelitian, serta sportivitas para peserta.

Di sisi lain, pengembangan Sumpitan mempunyai dimensi yang lebih luas. Ketika olahraga tradisional diberi ruang untuk tumbuh melalui kompetisi yang terarah, masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal kembali bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang berpotensi semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.

Kejuaraan terbuka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya dapat diwariskan melalui praktik, pembinaan, kompetisi, dan keterlibatan generasi muda secara langsung.

Harapannya, olahraga Sumpitan di Kota Tangerang dan Banten dapat terus berkembang secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai olahraga rekreasi, tetapi juga mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang dapat membawa nama daerah maupun Indonesia di berbagai ajang.

Lebih dari sekadar mengejar podium, semangat yang dibangun melalui olahraga Sumpitan adalah menjaga identitas budaya sembari membuka ruang prestasi bagi generasi penerus bangsa.

Dengan demikian, Sumpitan dapat menjadi salah satu contoh bahwa warisan tradisional dan semangat olahraga modern dapat berjalan beriringan—merawat budaya, membangun karakter, serta menyiapkan generasi yang berprestasi menuju cita-cita Indonesia Emas.

(Dina)