Program SIM-Meranti Project 2026, Yayasan BINTARA dan CAKRA BUANA Luncurkan Monumen Filosofi Setiap Anak Istimewa

Kota Depok | antarwaktu.com – Program kolaborasi dan pertukaran pelajar internasional yang melibatkan tiga negara antara Singapura, Indonesia, dan Malaysia, disebut SIM-Meranti Project 2026. Melalui program SIM-Meranti Project 2026, Sekolah Cakra Buana Depok, selain menerima kunjungan dan sekaligus program pertukaran pelajar internasional SIM-MERANTI Project 2026, juga luncurkan Monumen Cakra Buana, pada Selasa (27/10/2026), di Sekolah Cakra Buana Depok, Jawa Barat.

Diluncurkannya monumen yang bermakna filosofi utama sekolah bahwa setiap anak cerdas dan istimewa di bidangnya masing-masing sesuai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Peresmian ini menjadi bagian dari rangkaian hari kedua Program Kolaborasi Internasional SIM-MERANTI Project 2026. “Kolaborasi yang telah berjalan sejak 2007 ini, mempertemukan pelajar dan pendidik dari tiga negara, yakni Westwood Secondary School Singapura, Bintara dan Cakra Buana School Indonesia, dan Maktab Sabah Malaysia. Peresmian Monumen Cakra Buana juga menjadi penanda menyambut hari ulang tahun ke-27 Sekolah Cakra Buana, serta perjalanan panjang Sekolah Bintara yang telah berdiri sejak tahun 1984,” ujar Siti Nurul, selaku pemilik Yayasan dan penggagas kedua sekolah Bintara dan Cakra Buana, kepada pewarta, Selasa (27/10/2026).

Eyang Titi sapaan akrabnya yang didampingi Ketua Yayasan Bintara dan Cakra Buana Safira Lestari serta Principal Westwood Secondary School Singapura, Mr. Brian Tan, mengucapkan rasa syukur atas konsistensi lembaganya dalam menerapkan Kurikulum Nasional Plus selama hampir lima dekade.

Kendati berbeda dengan sekolah konvensional, Cakra Buana dan Bintara tidak memberlakukan tes masuk akademis. Calon siswa justru diwajibkan mengikuti psikotes yang dipimpin lembaga psikologi mitra. Karena, seorang guru tidak boleh mengajar tanpa mengetahui peta potensi siswanya. “Jadi, bagaimana seorang guru akan melakukan tugasnya dengan maksimum, kalau guru tidak dibekali dengan peta siapa murid yang akan ditemaninya?” ungkap Eyang Titi.

Dia juga mengutarakan, bahwa dari hasil psikotes tersebut, guru dibekali color guide atau panduan warna untuk memetakan karakteristik unik setiap siswa yang dikategorikan ke dalam warna merah, kuning, oranye, hijau, dan biru. “Artinya, dengan konfigurasi itu, guru diwajibkan menyusun lesson planning yang inklusif dan terdiferensiasi. Siswa yang membutuhkan waktu belajar lebih lama akan mendapat pendampingan visual atau pengulangan materi, sementara siswa yang lebih cepat tanggap diberikan materi lanjutan (advance material) agar tidak bosan,” tutur Eyang Titi.

Eyang juga menyampaikan, bahwa prinsip keadilan dalam pendidikan, bahwa semua anak berhak mendapat layanan yang sama, namun dengan metode pendekatan yang disesuaikan kebutuhan individunya. “Dengan peringatan HUT Sekolah Cakra Buana pada 27 Oktober 2026 ini terasa istimewa karena bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, serta kehadiran mitra sister school dari Singapura,” tukas Eyang Titi.

Dia menceritakan, dengan kehadiran tamu internasional ini sekaligus menandai babak baru kolaborasi lintas batas untuk mempersembahkan model pendidikan yang humanis, tidak hanya bagi Bintara dan Cakra Buana, tetapi juga untuk Indonesia dan dunia. Eyang juga menitipkan tiga pilar filosofis bagi ekosistem pendidikan.

Pertama, Super Students dengan keyakinan bahwa setiap anak adalah pelajar super di bidangnya. Kedua, Super Teachers, yakni guru sebagai fasilitator profesional yang memahami peta potensi murid, bukan sekadar menggugurkan kewajiban mengajar. Ketiga, Super Parents, yakni orang tua yang berhenti menghakimi anak berdasarkan peringkat angka, melainkan memahami kelebihan, kekurangan, peluang, dan tantangan anak. “Sendirian kita tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi bersama-sama kita bisa berbuat sesuatu,” paparnya.

Ditempat yang sama, Ketua Yayasan Bintara dan Cakra Buana Safira Lestari mengungkapkan, hari ini 27 Oktober 2026 kami masih melaksanakan serangkaian International Collaboration Program dari SIM-MERANTI Project. Ini hari kedua di mana mereka melaksanakan project show, dimulai dari peresmian tower oleh Ibu Pembina kita, Eyang Titi. “Jadi usai peresmian, kegiatan berlanjut dengan project showcase di Atrium Plaza Dream Cakra Buana. Showcase ini menjadi bagian dari STEAM Project (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) yang menjadi jantung kolaborasi internasional tersebut,” ujar Safira.

Dia menjelaskan, yang dalam kesempatan tersebut didampingi Pembina Yayasan yang juga Owner Sekolah Cakra Buana Siti Nurul serta Principal Westwood Secondary School Singapura, Mr. Brian Tan, ada pembagian fokus yang menarik antar negara peserta. Dari sister school kita Singapura, Westwood Secondary School, mereka sudah mengedepankan tentang teknologi AI. Kalau dari Cakra Buana dan Bintara, kita lebih kepada menggunakan sumber daya alam yang sudah diberikan Tuhan Yang Maha Esa di sekitar kita, bagaimana kita olah menjadi suatu produk. “Produk yang ditampilkan merupakan hasil proses design thinking yang dimulai dari anak-anak. Prosesnya melalui tahap berpikir kritis, logis, hingga kreatif agar produk yang dihasilkan berfungsi untuk komunitas dan menumbuhkan jiwa entrepreneur. Anak-anak kita lebih fokus kepada project yang tadi kita lihat, banyak dari penggunaan ikan untuk otak-otak, kunyit, sampai bagaimana air kotor bisa disulingkan dengan teknologi karya anak-anak menjadi air bersih, dan bagaimana food waste bisa menjadi lebih valuable,” jelas Safira.

Safira juga menekankan, dengan kolaborasi ini sumber daya manusia, dalam hal ini siswa dan peran guru, tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Teknologi dan sumber daya alam harus dikolaborasikan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat. “Sumber daya manusia tidak akan tergantikan oleh AI. Teknologi AI merupakan alat yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia,” tukasnya.

Safira menambahkan, dari rangkaian hari kedua akan ditutup dengan acara Tonight Show sebagai ajang apresiasi dan cultural sharing. Nanti sore atau malam kita akan mengadakan Tonight Show, lebih kepada untuk mengapresiasi togetherness, benar-benar kita sharing tentang budaya, sosial anak-anak, pola pikir menjadi satu. “Pada malam tersebut, para siswa akan menampilkan keistimewaan di bidangnya masing-masing melalui dance performance dan art performance. “Tonight mereka akan showing my friends, setiap anak istimewa di bidangnya masing-masing. Karena project show product sudah ditampilkan siangnya, malamnya lebih ke performance,” pungkasnya.

MAUL