Kota Tangerang | antarwaktu.com – Keluhan masyarakat Kota Tangerang terkait kondisi jalan rusak akibat musim hujan mendapatkan perhatian. Pemkot Tangerang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus bekerja memperbaiki sarana penting penunjang aktifitas masyarakat tersebut.
Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni mengatakan, saat ini setidaknya ada 72 ruas jalan di Kota Tangerang yang mengalami kerusakan akibat tergerus curah hujan yang tinggi. “Dari 72 ruas jalan yang rusak itu, diidentifikasi sebanyak 207 titik, atau kalau luasnya 320 meter persegi. Jumlah ini agak lebih massif dibanding tahun lalu,” kata Taufik Syahzaeni saat menjadi pembicara di acara Podcast Satelit News, pekan lalu.
Menurut Taufik, ada beberapa faktor penyebab jalan menjadi rusak. “Penyebabnya faktor eksternal, seperti cuaca atau curah hujan yang tinggi, kemudian beban muatan kendaraan yang over kapasitas, dan juga faktor penyediaan utilitas, seperti galian air bersih, galian kabel dan lainnya,” terangnya.
Dalam rangka perbaikan jalan tersebut menurut Taufik, pihaknya menggunakan dua metode. Pertama metode patching atau tambal sulam sebagai solusi cepat. Material yang digunakan pun disesuaikan dengan kondisi cuaca. Pada sejumlah lokasi, petugas memasang konblok atau paving block agar lebih tahan terhadap genangan air dan mencegah lubang kembali terbentuk saat hujan turun.
Menurut Taufik, langkah ini bukan sekadar perbaikan sementara, melainkan strategi mitigasi agar kerusakan tak meluas. “Kami menutup lubang jalan dengan material yang sesuai kondisi cuaca untuk mencegah kerusakan semakin parah. Jadi pengguna jalan tetap aman, dan perbaikan bisa bertahan lebih lama,” katanya.
“Dan ini yang kemarin viral, jalan raya kok pakai konblok? Sebenarnya, penggunakan konblok ini adalah cara yang lazim digunakan sebagai cara cepat memperbaiki jalan di saat kondisi musim hujan. Konblok ini cukup kuat menghadapi cuaca dan lebih awet dibanding pakai aspal. Tapi harus dipastikan kekerasan dan penempatannya agar tidak membahayakan,” jelasnya.
Hal ini juga karena mempertimbangkan perbaikan jalan harus segera dilakukan, di sisi lain agar hasil perbaikan tidak malah membahayakan pengguna. “Dan yang kedua menggunakan hotmik, cara ini merupakan cara yang cepat, namun juga harus memperhatikan kondisi cuaca, karena kalau kondisi lagi hujan maka hotmik tidak bisa digunakan karena akan tergerus air,” ujarnya.
Selain itu, saat memperbaiki jalan rusak, petugas PUPR Kota Tangerang juga dibarengi dengan membersihkan saluran drainase. “Karena kalau jalannya diperbaiki tapi drainasenya mampet, maka jalan akan kembali rusak,” tukasnya.
Bagi Pemkot Tangerang, perbaikan jalan tak lagi sekadar rutinitas teknis, melainkan bagian dari pelayanan publik. Karena itu, partisipasi warga didorong lewat sistem pelaporan cepat. Pemerintah membuka kanal aduan melalui program Perjaka Gesit—singkatan dari Perbaikan Jalan Kota Gerakan Sehari Tuntas.
Melalui aplikasi Tangerang LIVE atau nomor pengaduan 0811-1500-152, warga dapat melaporkan lokasi jalan berlubang lengkap dengan foto dan titik koordinat. Laporan tersebut akan langsung diteruskan ke tim lapangan untuk ditindaklanjuti.
Skema ini, kata Taufik, membuat pemerintah tak lagi menunggu laporan formal atau survei berkala. “Begitu ada laporan masuk, tim langsung cek dan tindak. Harapannya, kerusakan bisa ditangani sebelum membesar,” tandasnya. (Adv)






