Tangerang | antarwaktu.com – Sebuah gudang berpagar rapat di Jl. Cilimus No.1, Bantar Panjang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, menuai perhatian. Di balik gerbang besi yang nyaris tak memberi celah pandang, aktivitas tetap berjalan.
Pantauan antarwaktu.com pada Rabu, 29 April, memperlihatkan puluhan drum diduga berisi oli bekas menumpuk di area terbuka; sebagian tampak menghitam.
Di sisi lain, mobil tangki keluar-masuk; pekerja memindahkan wadah tanpa perlindungan yang memadai.
Gambaran di lapangan memunculkan tanda tanya besar. Kegiatan berlangsung tertutup; akses dibatasi. Namun, pergerakan logistik terlihat rutin.
Pola seperti ini sulit dibaca sebagai aktivitas biasa. Dalam praktik pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), transparansi dan standar teknis bukan pilihan—melainkan kewajiban.
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol. H. Andi M. Indra Waspada, merespons informasi yang masuk. Ia menyatakan laporan telah diterima dan ditindaklanjuti. Penanganan teknis diarahkan ke Kapolsek Tigaraksa untuk pendalaman lebih lanjut.
“Sudah kami sampaikan ke Kapolsek Tigaraksa. Untuk teknis, silakan ditanyakan ke Kapolsek,” demikian keterangan yang diterima pada Senin 04/05.
Di titik ini, publik menunggu lebih dari sekadar disposisi.
Pertanyaan mendasar mengemuka: siapa penanggung jawab operasional; apakah izin pengelolaan limbah telah diverifikasi; serta bagaimana alur distribusi dijalankan. Tanpa jawaban yang terang, aktivitas tersebut berpotensi berada di wilayah abu-abu.Kondisi penyimpanan di lokasi juga memantik kekhawatiran.
Drum diletakkan di atas tanah terbuka; sebagian tanpa penutup rapat. Dalam standar pengelolaan B3, penyimpanan semestinya dilengkapi sistem pengamanan untuk mencegah kebocoran dan kontaminasi.
Dugaan Ketidaksesuaian pada aspek ini bukan persoalan kecil; dampaknya dapat menjalar ke tanah hingga sumber air.
Hingga kini, belum ada penjelasan dari pihak pengelola gudang. Aparat disebut masih melakukan penelusuran.
Kasus ini menjadi ujian sederhana: apakah pengawasan berjalan efektif, atau justru tertinggal oleh aktivitas di lapangan. Tigaraksa menunggu jawaban—bukan sekadar proses, melainkan kepastian.(Haidar)












