Jakarta | antarwaktu.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hikmah, Cililitan, Jakarta, pada Senin (21/9/2026) berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Momentum ini tak sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, melainkan menjadi ruang refleksi untuk menumbuhkan kembali semangat keimanan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan oleh Dr. KH. Lutfi Hakim Wahid, anggota Dewan Pertimbangan DPP Serikat Buruh Nusantara Bersatu sekaligus Ketua Umum UMKM Nahdliyin, dalam tausiyahnya di hadapan jamaah.
Menurut Gus Lutfi — sapaan akrabnya — bulan Maulid memiliki keistimewaan tersendiri, karena menjadi momen mengenang kelahiran sosok teladan bagi seluruh umat manusia.
“Sebagaimana kita ketahui, bulan Maulid adalah bulan yang sangat istimewa, karena di sinilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, esensi Maulid tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Peringatan ini harus mampu melahirkan perubahan nyata dalam diri setiap orang yang merayakannya.
Gus Lutfi mengibaratkan makna Maulid dengan ungkapan “Tandure Wus Sumilir” — yang bermakna tumbuh dan berseminya kembali kehidupan setelah hadirnya kesejukan dan harapan.
“Di mana pun perayaan Maulid digelar, ia seharusnya menjadi ‘Tandure Wus Sumilir’ — penyemangat bagi kita semua,” tegasnya.
Keteladanan Rasulullah SAW, lanjut Gus Lutfi, dapat diwujudkan melalui sikap sederhana namun mendasar: kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, serta kepedulian terhadap sesama.
“Akhlak Rasulullah SAW menjadi contoh nyata bagaimana kita bersikap jujur, memegang amanah, dan bersabar dalam keseharian,” katanya.
Kecintaan kepada Nabi, kata Gus Lutfi, tidak cukup hanya dilantunkan dalam shalawat atau peringatan semata — melainkan harus tercermin dalam perilaku nyata. Masyarakat membutuhkan keteladanan yang hidup, bukan sekadar simbol.
Ia mengajak jamaah menjadikan Maulid sebagai momentum kebangkitan semangat. Kelahiran Rasulullah SAW ibarat musim semi yang membawa kesejukan iman bagi seluruh umat.
“Semoga kita semua pantas mendapatkan syafaat beliau, dan semoga dosa-dosa kita diampuni Allah SWT,” pungkasnya.
Inti pesannya: Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, melainkan momen agar akhlak dan keteladanan beliau kembali bersemi di tengah kehidupan umat.
(Sutarman)












