Garut | antarwaktu.com – Tanpa warta, informasi sebesar apapun tak akan sampai ke masyarakat. Tanpa wartawan, persoalan rakyat sekecil apapun tak akan diketahui pemangku kebijakan.
Dengan premis itu, Anggota DPR RI Komisi I Fraksi PKB, Oleh Soleh, membuka curhat bersama puluhan wartawan Garut, pekan ini.
Forum yang ia beri tajuk “Wartawan Garut Curhat Bersama Komisi I Oleh Soleh” itu berlangsung cair, diselingi bahasa Sunda, canda, hingga janji-janji politik.
“Menjadi keniscayaan bagi pemangku kebijakan legislatif, eksekutif, bahkan yudikatif untuk bekerja sama dengan media,” kata Oleh di hadapan wartawan.
Oleh mengaitkan peran media dengan pembangunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Menurut dia, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sebagai penopang IPM di Garut tak akan terwujud tanpa kolaborasi dengan pers.
Dalam forum itu, Oleh menegaskan posisinya. Secara administratif negara saya wakil dari PKB, tapi secara de facto dan de jure, saya adalah wakil rakyat dari Sabang sampai Merauke tanpa membedakan partai, suku, agama, ras,” ungkapnya.
Ia juga mengklaim siapa pun yang menghubunginya via WhatsApp, DM, atau proposal, wajib ia teruskan kepada eksekutif mulai dari Presiden, menteri, gubernur, bupati, hingga RT.
“RT itu adalah eksekutif sesungguhnya. Pemerintahan terdepan di NKRI,” katanya.
Di tengah orasi, Oleh sempat berkelakar soal usianya. Oleh Soleh lahir di Tasik tahun 1975.
“Kalau 1975 berarti sekarang umur saya 21 tahun, masih muda, kan? Masih jos. Walaupun masih muda, anaknya sudah tiga. Istrinya baru satu, jandanya belum,” ujarnya disambut tawa.
Karier politiknya ia urai, DPRD Kabupaten Tasik 2009-2014, DPRD Provinsi Jawa Barat 2014-2024, dan DPR RI sejak 2024.
Ia menyebut jabatannya kini “ila akhiril hayat” dan berharap suatu saat masuk ke eksekutif.
Sebagai jubir PKB di Komisi I, Oleh menjelaskan mitra kerjanya meliputi Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Di bidang pertahanan, ia mengaku tengah mengusulkan pembentukan Matra Siber, matra keempat TNI selain AD, AL, dan AU. Alasannya, perang modern seperti konflik Iran, Amerika, dan Israel, menurutnya, kini dijalankan sambil bermain media dan teknologi.
“Perang itu sambil merokok, sambil joget, ternyata pakai media. Maka siber ini menjadi sebuah keniscayaan di era digitalisasi,” kata dia.
Untuk urusan luar negeri, ia menegaskan sikap “Palestina harga mati merdeka.”
Bagian paling panjang dari orasinya adalah soal Komdigi. Di bawah Komdigi, kata Oleh, terdapat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Informasi Publik (KIP), dan Dewan Pers. Karena itu, ia merasa wartawan Garut berada “di bawah” pembinaannya di Komisi I.
Ia pun menitipkan pesan legalitas. Ia meminta pemilik portal online melengkapi badan hukum, baik yayasan maupun PT, serta memiliki sertifikasi kewartawanan seperti dari organisasi sejenis. Alasannya, untuk perlindungan hukum saat terjerat UU ITE atau pencemaran nama baik.
“Ketika Bapak memberitakan satu pihak, ada orang yang tidak nyaman, masuk pasal ITE, yang pertama ditanya adalah legalitas, yang kedua sertifikasi kewartawanan. Kalau tidak ada, sudah kalah,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan foto bersama dan yel-yel yang dipimpinnya sendiri
“Wartawan Garut Berkarya, Berdaya, Maju Bersama! Oleh Soleh,Well!” (Chrystian)Editor:Buy












