Garut | antarwaktu.com – Penguatan partai politik tidak selalu dimulai dari panggung besar dan orasi di kota. Di PPP Garut, kekuatannya justru ditempa di pesantren, dari komunikasi ke komunikasi, dari ranting ke ranting.
Semangat itulah yang terlihat dalam Pendidikan Politik sekaligus Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PAC dan Ranting Daerah Pemilihan V yang digelar DPC Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Garut, Kamis (10/9/2026).
Acara berlangsung di Pondok Pesantren Maba’ul Faizin, Kecamatan Cisurupan. Pesertanya bukan elite. Mereka adalah jajaran Pengurus Anak Cabang dan pengurus ranting dari wilayah Dapil V. Orang-orang yang sehari-hari berhadapan langsung dengan warga.
Ketua DPC PPP Kabupaten Garut, Ayi Suryana, hadir dan membuka acara. Ia bersyukur kegiatan berjalan lancar.
Bagi PPP, ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Ini ruang untuk mengulang pelajaran dasar: berpolitik itu soal kaderisasi, konsolidasi, dan menjaga struktur agar tidak keropos dari bawah.
“Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Kegiatan ini diikuti oleh PAC dan anak ranting yang ada di Dapil V,” ujar Ayi.
Kalimatnya sederhana. Tapi maknanya dalam. Sebab di mata Ayi, PAC dan ranting adalah garda depan. Mereka yang paling tahu denyut warga, paling cepat mendengar keluhan, dan paling rentan jika komunikasi dengan pusat putus.
Karena itu, pendidikan politik hari itu tidak diisi ceramah panjang. Para pengurus diajak berdiskusi, bertukar pandangan, dan menyamakan langkah. Materinya seputar kehidupan politik, organisasi, hingga strategi pemenangan yang membumi.
Di sela Musancab, struktur kepengurusan PAC dan ranting di Dapil V juga dievaluasi dan dikonsolidasikan ulang. Tujuannya satu: memastikan roda organisasi tidak hanya berputar di kantor DPC.
Pilihan lokasi di pesantren bukan kebetulan. PPP sejak lahir memang lekat dengan akar Nahdlatul Ulama dan pesantren. Di Cisurupan, simbol itu ditegaskan kembali. Politik tidak harus gaduh. Ia bisa dimulai dari musyawarah, dari ngaji organisasi.
Dapil V yang mencakup beberapa kecamatan di Garut selatan selama ini menjadi lumbung suara sekaligus wilayah dengan tantangan mobilisasi paling besar. Jarak, geografi, dan keterbatasan sumber daya membuat kerja-kerja ranting jadi kunci.
Jika ranting kuat, suara akan mengalir. Jika ranting lemah, partai sebesar apa pun akan tumbang.
Musancab dan pendidikan politik di Maba’ul Faizin karena itu bisa dibaca sebagai upaya PPP Garut menambal kebocoran itu. Dari bawah. Pelan-pelan. Tanpa banyak sorotan kamera.
Sebab pada akhirnya, pemilih tidak memilih baliho. Mereka memilih orang yang tiap hari nongol di majelis taklim, di pos ronda, di hajatan warga. Dan orang-orang itu ada di ranting. (Chrystian) Editor:Buy












