Tangerang | antarwaktu.com – Dugaan peredaran obat keras daftar G di wilayah Paku Haji semakin sulit dibantah. Nama Arif kini mencuat dan menjadi sorotan, seiring terungkapnya dua titik lokasi yang diduga kerap dijadikan tempat transaksi cash on delivery (COD) obat jenis Tramadol dan Eximer.
Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan pada Rabu 15/04/2026/, praktik tersebut tidak hanya berlangsung di satu titik. Aktivitas diduga terjadi di:
1. Jalan Kampung Kelapa Lima, Kelurahan Pakuhaji, Kecamatan Paku Haji, Kabupaten Tangerang.
2. Kampung Sukawali, Desa Sukawali, Kecamatan Paku Haji, Kabupaten Tangerang.
Dua lokasi ini disebut menjadi titik pergerakan transaksi yang berjalan cukup leluasa. Sistem COD yang digunakan memperkuat dugaan bahwa pola peredaran dilakukan untuk menghindari pantauan, namun ironisnya tetap berlangsung di lingkungan permukiman warga.
Jika kondisi ini benar adanya, maka yang terjadi bukan sekadar pelanggaran biasa. Ini adalah gambaran nyata bagaimana peredaran obat keras ilegal bisa tumbuh di tengah masyarakat, bahkan terkesan tanpa hambatan berarti.
Nama Arif disebut sebagai pihak yang diduga memiliki peran penting dalam aktivitas tersebut. Sementara itu, seorang pria bernama Radit diduga menjadi pelaku lapangan yang menjalankan transaksi secara langsung. Pola ini menunjukkan adanya dugaan jaringan terstruktur, bukan sekadar aksi sporadis.
Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa dua titik lokasi ini bisa berjalan bersamaan tanpa tersentuh penindakan? Apakah pengawasan belum maksimal, atau justru ada celah yang dimanfaatkan secara sistematis?
Peredaran Tramadol dan Eximer tanpa izin bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Obat keras daftar G yang seharusnya berada di bawah pengawasan medis justru diduga beredar bebas, bahkan menyasar lingkungan yang dekat dengan masyarakat umum.
Aparat penegak hukum diharapkan segera turun tangan, melakukan penyelidikan menyeluruh, dan mengambil langkah tegas. Sebab, jika dua titik ini benar menjadi pusat peredaran, maka ini bukan lagi persoalan kecil, melainkan ancaman serius yang terjadi di depan mata.
> Haidar <












